Budaya Jepang Bounenkai

bounenkai

Artikel budaya Jepang oleh Anindyatrans kali ini adalah Bounenkai, sebuah tradisi Budaya Jepang di akhir tahun. Penghujung tahun 2014 mulai terbentang di depan mata dan tidak jarang orang Indonesia yang mulai disibukkan dengan acara mempersiapkan kebutuhannya di tahun mendatang, mulai dari sekedar perencanaan sederhana maupun perencanaan yang terstruktur dengan rapi. Akhir tahun biasanya dihabiskan untuk persiapan malam tahun baru dengan tradisi berkumpul dengan keluarga, teman, kolega bisnis, dan beberapa pihak lain hingga meramaikannya dengan beragam kegiatan misalnya dengan kembang api dan perayaan tertentu.
Tradisi merayakan pergantian tahun tak hanya dilakukan di Indonesia. Tak jauh berbeda dengan kebiasaan orang Indonesia, orang Jepang juga mempunyai tradisi untuk merayakan akhir tahun dan menyambut tahun baru. Terkesan mirip tapi jauh berbeda, perayaan di akhir tahun atau biasa disebut dengan Bounenkai dalam bahasa Jepangnya adalah perayaan dimana orang Jepang biasanya berkumpul dengan kolega bisnis dan merayakannya dengan cara minum minuman beralkohol dan sake, dan umumnya dalam jumlah yang tergolong tidak sedikit. Berbeda dengan perayaan tahun baru yang dirayakan dari tanggal 1 hingga 3 Januari, Bounenkai hanya dilakukan dalam satu hari saja.
Perayaan ini diadakan dengan bertujuan untuk menghilangkan dan melupakan keluh-kesah dan permasalahan yang timbul dan tertimbun dalam setahun terakhir dan mengungkapkannya tanpa rasa sungkan ke sesama pekerja maupun ke atasan yang berada di sekitar lingkungan kerja sehingga dapat menyongsong tahun baru dengan perasaan baru dan lega dikarenakan terbebas dari beban pikiran negatif. Pekerjaan tentunya akan lebih menyenangkan dan mudah dilakukan jika dilakukan dengan pikiran yang jernih dan segar sehingga dapat mencapai tujuan perusahaan yang telah direncanakan sebelumnya.
Perayaan Bounenkai biasanya diselenggarakan oleh perusahaan dengan dana tertentu yang dibatasi per pekerja, umumnya tidak melebihi 5000 yen per orangnya. Perayaan ini rutin dilakukan dengan ketentuan seperti yang tertulis sebelumnya dengan maksud agar pekerja tidak berlebihan dalam menggunakan dana perusahaan. Tempat yang sering menjadi lokasi perayaan Bounenkai ini biasanya di izaka-ya, kedai minuman atau tempat yang telah direservasi sebelumnya oleh perusahaan. Perayaan Bounenkai di akhir tahun merupakan awal dan perayaan pembuka dari rentetan perayaan di awal tahun bagi orang Jepang.

Ojigi: Bahasa Tubuh Penghormatan Bangsa Jepang

ojigi

Artikel belajar bahasa Jepang oleh Anindyatrans penyedia Jasa Penerjemah Bahasa Jepang dan Interpreter Bahasa Jepang Tersumpah kali ini menjelaskan Ojigi, kebiasaan menghormati lawan bicara. Jika orang Indonesia lebih memilih untuk menjabat tangan lawan bicaranya, orang Jepang juga mempunyai kebiasaan yang serupa tapi tak sama bernama Ojigi. Ojigi, atau dalam bahasa Indonesia bisa disebut juga membungkukkan badan adalah kebiasaan orang Jepang di awal proses berkomunikasi yang dilakukan dengan cara saling membungkukkan badan dengan derajat tertentu. Ini mungkin bukan pemandangan yang familiar bagi orang Indonesia, tapi melalui belajar bahasa Jepang inilah budaya Jepang dan salah satu hal yang membedakan Indonesia dan Jepang.
Ojigi sudah menjadi kebiasaan yang mendarah-daging bagi penduduk asli negara empat musim ini. Ojigi hampir dilakukan oleh semua pihak tak terkecuali pelaku bisnis, antara atasan dan pegawai, antara anggota keluarga, bahkan tak jarang juga akan dijumpai pelayan toko yang juga akan membungkukkan badan saat pelanggan mereka mengunjungi dan berbelanja di tempatnya bekerja, Itu semua mewujudkan bentuk dari perasaan saling menghargai, menghormati orang sekitar.
Ojigi juga biasanya akan diajarkan pada peminat yang belajar bahasa Jepang pemula, mulai dari bagaimana cara membungkukkan badan dengan derajat tertentu, cara dan arah pandang mata, hingga posisi tangan yang disesuaikan pada jenis kelamin. Semakin besar derajat dari ojigi dan semakin lama seseorang membungkukkan badan, seringkali mempunyai arti bahwa orang tersebut menyesali perbuatan atau kesalahannya di masa lalu pada lawan bicara dan mengharapkan agar dia dimaafkan. Sedangkan untuk cara dan arah pandang mata, diharapkan agar tetap menghadap pada lawan bicara, tentu saja dengan memposisikan tangan di depan tubuh atau di samping tubuh yang disesuaikan dengan jenis kelamin seseorang. Untuk laki-laki, kedua lengan berada di samping tubuh pada saat melakukan ojigi dan untuk perempuan, kedua lengan berada di daerah sekitar perut. Aturan ini penting untuk diperhatikan mengingat kebiasaan ini didapatkan dari negara tetangga, dan dirasa kurang tepat jika melakukannya dengan cara yang salah.
Tak hanya dilakukan dalam posisi berdiri, ojigi juga dapat dilakukan dalam posisi duduk dan membungkukkan diri dengan kedua telapak tangan di lantai. Ojigi dalam posisi duduk biasanya dilakukan dalam pertemuan formal antara orang dekat dan upacara minum teh. Sekian dari kami Anindyatrans bagi Anda yang ingin belajar bahasa Jepang.